Di hari kedua pelaksanaan Kuliah Kerja Lapangan (KKL) mahasiswa PGSD UMS di Kota Batu, Malang pada 31 Oktober s.d. 2 November 2018. Kelompok Kami, “Kemuning”, mengunjungi Agro Petik Madu. Saat itu baru pukul 09.00 WIB, kami telah sampai di lokasi. Segarnya udara pagi khas pegunungan dan rimbunnya pepohonan menambah semangat kami mencandra kehidupan lebah dan budi dayanya. Kedatangan Kami disambut patung lebah yang sangat besar, lebih besar dari badan kami, warnanya yang kuning dan hitam menarik kami untuk langsung bergaya memasang aksi.

Kegiatan pertama di wisata edukasi budidaya lebah adalah menyaksikan penjelasan atraktif pengelola. Kami disajikan video bagaimana lebah berkomunikasi antar mereka ketika menjelaskan letak wilayah yang memiliki banyak bunga, tingkah laku ratu lebah yang kawin sekali untuk memproduksi telur selama hidupnya, dan merasakan dikerumuni ratusan lebah di telapak tangan kami.
Selanjutnya peserta KKL dibagi menjadi kelompok-kelompok kecil untuk mempelajari beragam wahana edukasi di sana. Kelompok “Kemuning” mendapat bagian untuk mempelajari Tanaman Organik.

Kami diajak untuk menapaki jalan setapak yang melingkari dan meninggi, menuju lahan datar lagi luas tempat penanaman tanaman organik. Pertanian ramah lingkungan tanpa pupuk sintetis dan pestisida kimiawi. Kami belajar bagaimana menanam tanaman organik, mulai dari penyediaan lahan, penyemaian bibit, pemberian pupuk, pengendalian hama, hingga waktu panen. Back to nature, bahasa kerennya, kembali ke alam “dasar awal pertanian kuno”, tetapi tetap menggunakan teknologi pertanian modern dan metode-metode mutakhir yang telah diuji. Back to nature sebagai bagian dari –meminjam lagunya Michael Jackson “Heal the world, make it a better place, for you and for me and the entire human race”.
Learning by doing, kami mengikuti metode John Dewey. Mendengarkan penjelasan dan melakukannya, coba dan mencoba lagi agar menjadi terampil. Menyediakan media tanam dan menanam aneka tanaman dengan tepat, karena setiap sayuran memiliki cara penanganan yang berbeda. Kami menyemai sawi, kangkong, tomat, cabai, dan lain sebagainya. Teknik penyemaian yang baik dengan cara menyiapkan gundukan pasir agar benih yang disebar bisa terpisah-pisah dan tidak menggerombol, lalu kami menyebar bibit dan menyiramnya dengan air.

Penyediaan media tanam menggunakan campuran tanah dan pupuk kandang. Kami mencampur kedua bahan tersebut dengan perbandingan 1:1. Selanjutnya Kami belajar memindahkan tanaman yang sudah siap ke media tanam yang telah dibuat. Di akhir kegiatan, Kami diberi tanaman kangkung siap panen untuk dibawa kembali ke Solo.

Sungguh sebuah pengalaman yang mengesankan dan bermakna, walaupun mungkin remeh menurut orang lain. Menanam sayuran dan tumbuhan-tumbuhan, lebih-lebih organik, pasti menjadi bagian dari usaha “healing the world”. Kami pun berkomitmen untuk menjaga semangat menanami, karena menanam merupakan sodaqoh dan akan menjadi jalan menuju surga. Sebagaimana hadis Nabi “Tidaklah seorang muslim menanam tanaman, kemudian tanaman tersebut dimakan oleh burung, manusia ataupun binatang ternak, melainkan hal itu sudah termasuk sedekah darinya”.

Disusun oleh: Ayu Faridah Ahzarra, Mila Destiana Sari, Hasdiah Intan, Kristika Setia L, Diyah Wahyuningtyas, Suci Ramadhanti, Vera Kartika Giantari, Eka Fitri Saputri S, Nella Kusuma Rini